Sabtu, 28 November 2015

PENTINGNYA MEMPERTAHANKAN BURUNG DAN KANDANG

PENTINGNYA MEMPERTAHANKAN BURUNG DAN KANDANG
Oleh : Angga Mayolus Linus
 
Hari yang cerah di awali oleh cerahnya matahari dan kicauan burung yang di dalam kurungan berpagar bambu, yaa sesuai desain rumah pemilik kandang burung itu , mereka yang tiap paginya memberi makan agar peliharaannya bisa bertahan hidup seperti pemeliharanya .

Ke esokan harinya pemilik kandang dan burung itu kehabisan makanan dan juga kehabisan makanan burungnya ,kok serentak yaa ? entahlah cuman mereka yang tau , pemilik segera k pasar untuk membeli makanan agar bisa bertahan hidup dengan modal yang cukup agar peliharaannya tetap hidup , dan juga dirinyalah .. Di dalam alkitab perjanjian lama menyatakan"sayangilah dan selamatkanlah dari yang lebih membutuhkan agar kau bisa duduk di sisiku ,(iyaa itu salah satu hobiku) .

Tiba di pasar sambil mencari kebutuhan tersebut ,si pemilik ketemu dengan sahabat lamanya yang sudah meranjak ke level yang beda dari kandang burungnya dirumah ,burungnya dirumah cuman berbuluh setipis kumis sahabatnya (kasian burungnya)dengan bahasa yang khas dan pakaian yang rapih memperlihatkan perdalam yang mirip WARKOP pada zaman dono kasino indro , tapi cuman melirik ke gaya saja ,bedah jauh dengan secara materi dari ketiga artis komedian itu. Dengam kaca matanya yang hitam menyilaukan gerobak pedagang kaki lima yang ada di pinggir jalan , hahahaha maaf sahabat saya mass memang cuman bermodal eksisnya saja dia, dia cuman bisa memandang mirip kandang burung gerobak mass, (dasar palak) 10 menit berlalu sahabat pemilik kandang burung ini mengajak dia ke kediaman sang kacamata hitam ini, tibanya dirumah , pemilik kandang burung ini heran dengan ke adaan kediaman sahabatnya "kok pintunya banya sekali dan setiap pintu ada penghuninya" ?? sahabatnya bilang "itu milik saya semua dan mereka itu keluarga saya semua " (denga tegas dia berbicara) karena pemilik kandang burung ini cuman memikirkan burungnya dirumah, dia bergegas pulang dan mengabaikan sahabatnya (ternyata sahabatnya itu salah satu penghuni di tiap - tiap pintu keluarganya )haha pintu kontrakan keles !

Iyaaa kesederhanaan itu adalah kesempurnaan yang di berikan oleh penciptanya , ada slogan tertulis" kalo kaya jangan sok kaya dan kalo miskin jangan sok miskin " . kita sebagai negara yang ber ideologi pancasila yang belogo persis peliharaan pemilik burug dan kandang itu . Dia lebih memilih kediaman yang persis dengan kandang peliharaannya dari pada mencari banyak pintu yang tiap bulannya diteriki oleh hutang bukan diteriaki oleh kicauan burung , ternyata kacamata yang siap di teriaki terus sekalian aja pake kacatelinga agar tidak mendengar teriakan yang mendesak lagi , yang sabar kacamatanya .

Mari kita mempertahankan ideologi kita dengan berlandaskan pancasila(pelihara burung sajalah dari pada pelihara hutang) bukan dengan landasan hutang sana sini ,efeknyakan ke kami lagi yang cuman memelihara burung, (dasar kalian marsose marsose keparat )! maaf saya kasar ,padahal saya tidak pernah kasar sama burung saya (nalar berpikir pembaca jangan salah paham yaaa) .

Kata gusdur "saya siap mempertahankan negaraku dengan bermodal sandal jepit" ! nah ini kakek saya yang berasumsi dan saya yakin bukan keluarga sahabat si pemilik kandang burung tadi .

Jumat, 20 November 2015

ADA UPAYA MENGKAMBING HITAMKAN NAJWA SHIHAB TERKAIT PENCATUTAN NAMA PRESIDEN

ADA UPAYA MENGKAMBING HITAMKAN NAJWA SHIHAB TERKAIT PENCATUTAN NAMA PRESIDEN
Oleh : Effndy Ar@w
 
Belum lama ini kita disuguhi nyinyiran dari para clan media sosial semisal FB dan Twitter terkait ceramah ustadz Nur Maulana di salah satu stasiun televisi swasta. Tak berselang lama, kita lalu disuguhi tingkah laku ketua DPR RI atas pencatutan nama Presiden di PT. Freeport.

PT. Freport merupakan tambang terbesar di ujung timur Indonesia. Tambang yang terlampau lama di keruk oleh investor asing. Tambang yang begitu besar dalam mendokrak devisa negara. Sayang pembangunan di timur Indonesia tidak berbanding lurus dengan sumbangannya terhadap pembangunan nasional.

Perseteruan antara menteri ESDM Sudirman Said dengan ketua DPR RI Setya Novanto, tak lepas dari intrik memperoleh saham PT Freeport dan pembangunan pembangkit tenaga listrik di Papua dengan mencatut Presiden dan Wakil Presiden. Hal ini akhirnya menyeret sang ketua DPR ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Bahkan perseteruan itu melahirkan sebuah gerakan dan petisi pemecatan Ketua DPR atas pelanggaran etik dan hukum berupa; pertama,  penyalah gunaan kekuasaan legislatif menurut konstitusi. Kedua, pencemaran nama baik pimpinan tertinggi pemerintahan dan negara. Ketiga, manipulasi informasi dengan menyebutkan Presiden dan Wapres meminta saham padahal tidak benar, dan keempat, Rakyat dan negara ikut dirugikan atas hal tersebut.
Dilain sisi, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR berencana melapor ke Bareskrim Polri atas kasus bocornya foto surat laporan Menteri ESDM Sudirman Said. Rencana pelaporan disampaikan setelah foto tersebut muncul dalam wawancara eksklusif pada program Mata Najwa di Metro TV, Senin (16/11).

Padahal jika dinilai, apa yang ditampilkan oleh Najwa Shihab telah sesuai dengan prosedur jurnalistik dan kode etik. Lebih lanjut, wartawan atau jurnalis diperbolehkan untuk mendapatkan data atau bukti yang terkait dengan informasi publik. Jika di simak, maka hal demikian merupakan sebuah prestasi tersendiri. Mestinya, mbak Nana (sapaan akrabnya) mendapatkan penghargaan bukan malah di polisikan.

Selamat datang kegaduhan baru. Dengan terbukanya identitas dari pencatut, hasil wawancara putri berdarah Makassar, anak kedua Mufassir (ahli tafsir) Quraisy Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan Jilid VII. Pertanyaan besar yang mesti di jawab serta harus di perhatikan secara seksama adalah siapakah yang hendak di pilih oleh MKD sebagai pihak yang di laporkan..?

Lebih lanjut, jika pelaporan itu telah dilakukan MKD, bukankah itu adalah bagian dari upaya MKD memecah masalah..? Bahkan berpotensi pada pelaporan Menteri ESDM Sudirman Said tidak di tindaklanjuti secara sungguh-sungguh. Kalau masalah besar dan serius yang berkaitan dengan ketua DPR RI Setyo Novanto betul-betul tidak di bereskan, maka apa yang dulu di wacanakan Presiden ke IV Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memang perlu di tindaklanjuti yakni; Pembubaran Lembaga DPR...!!

NASIONALISME HANYA UNTUK TIMNAS

"NASIONALISME HANYA UNTUK TIMNAS"
Oleh : Arifin Zainuddin Laila
 
Nasionalisme, sebuah kata yang sederhana namun sulit di mengerti kemudian dijalankan. Nasionalisme merupakan kesadaran bangsa yang selalu menjaga kedaulatan dan keagungan sebuah negara. Tapi, seperti apa Nasionalisme itu?.
apakah nasionalisme hanya ada disaat pertandingan TIMNAS saja..? 

Pada hakikatnya, Nasionalisme merupakan kesadaran bangsa yang seharusnya ‘hidup’ Tapi, saat ini, kesadaran Nasionalisme kini menjadi ‘Redup’ seiring dengan redupnya persepak bolaan negri kita...
Apa harus menunggu para kolonialisme datang kembali ke negri kita melakukan kerja paksa atau tanam paksa,kemudian rakyat ‘marah’ dan membela negaranya? apakah dalam situasi seperti itu barulah rasa NASIONALISME kita bangkit.

Diluar kesadaran kita, para kolonialisme ternyata belum lepas dari negara kita, itu di tandai dengan banyaknya perusahaan besar negara yang dimiliki sepenuhnya oleh pihak asing. Lalu, penghasilan dari perusahaan tersebut yang telah ‘menggali’ habis sumber daya alam(SDA) negeri kita ini dibawa kemana? kalau kata jones amerika dapat hasilnya terus negri kita dapat deritanya. toh, negara kita sekarang ini masih saja menampung banyak kaum ‘fakir’ yang berada dibawah garis kemiskinan
yahhh bangsa kita bisa di ibaratkan manusia yang mati berbantalkan beras dan sayur.
huufff... salah siapa...... ini dosa siapa....
tau ah.. gelap...
hehehe.

putera-puteri bangsa yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak, tempat tinggal yang pantas dan masih banyak lagi masyarakat yang butuh bantuan dari pemerintah, tapi terabaikan begitu saja. Padahal, kekayaan sumber daya alam(SDA) kita ini sangat berlimpah ruah, bahkan sangat tidak masuk akal jika kemiskinan masih merajalela di negeri kaya raya ini.
 
Sungguh ironi bukan, negara yang paling terkenal akan kekayaan sumber daya alamnya masih memiliki jutaan rakyat miskin. Kita sebagai tuan rumah seharusnya sadar dari kebohongan-kebohongan pihak asing yang dulunya sebagai tamu namun sekarang menjadi raja di rumah kita sendiri. Selama ini, Nasionalisme hanya di artikan sebagai manifestasi perlawanan pada kolonialisme pada zaman penjajahan saja. dan sekarang berubah wujud menjadi sporter TIMNAS yang identik dengan prilaku lempar sana,lempar sini...

padahal didepan mata kita sendiri, dari sistem ekonomi negara pun masih dikendalikan oleh pihak asing. sudah seharusnya penerapan sikap Nasionalisme harus dapat dipegang teguh oleh semua rakyat agar menjadi kekuatan-kekuatan dan penyeimbang gerakan politik dinegeri ini. Dan juga, sikap Nasionalisme sejati itu berada pada kepedulian kita terhadap rakyat yang terjajah oleh pihak asing dan oleh pemimpin kita sendiri.

Karena, Nasionalisme adalah tiang utama tegaknya sebuah negara. Jika kebanggaan bernegara dalam diri setiap rakyat akan luntur, maka itu adalah sinyal bahwa semangat nasional telah merosot dan itu berarti keruntuhan negara akan segera tiba. .

Minggu, 15 November 2015

KAMPUS SEBAGAI KANTONG PERUBAHAN


Oleh : Masyudi Martani Padang

Wisuda, merupakan saat yang membahagiakan bagi orangtua karena anaknya telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan siap menjelajahi dunia kerja agar mampu berkontribusi bagi kehidupan bangsa. Di Indonesia, terdapat berbagai bentuk perguruan tinggi seperti akademi, institut, universitas, politeknik, dan sekolah tinggi. Dalam pemahaman yang lebih dunia internasional, level pendidikan tinggi merupakan jenjang yang sejajar dengan universitas. Universitas merupakan insitusi dari penelitian dan lembaga yang lebih tinggi yang memberikan gelar akademis pada berbagai subjek dan menyediakan pendidikan untuk undergraduate dan postgraduate. Kata universitas merupakan bahasa latin yang berarti “kumpulan guru dan murid.”, Menurut KBBI Universitas adalah perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu sedangkan Kampus Adalah daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung. kurasa Cukup untuk Pengantar Awal mengenai Universitas Dan Kampus itu.

Menoleh Kesejarah, Universitas (kampus) pertama didirikan di indonesia ketika Pemerintah Hindia-Belanda Menerapkan Konsep Politik Etis(Balas Budi) yang dipelopori oleh "Pieter Broosheft dan Van Deventer" atau biasa juga disebut politik Etis itu adalah Trias Van Deventer yang menjadikan Van Deventer sebagai Tokoh pencetus Politik Etis Tersebut, didalam Politik Etis (Balas Budi) terdapat 3 muatannya yaitu : Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian, Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasis serta Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan. program pendidikan dari politik etis itu mendorong timbulnya Sekolah-Sekolah yang semula hanya Sekolah Dasar untuk belajar membaca, menulis, dan menghitung, kemudian diperluas pada Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi/Universitas(Kampus).

Berbicara tentang Universitas (kampus) mengingatkan kita tentang kehidupan ilmiah dengan ciri utamanya Kebebasan Berfikir dan Berpendapat, Kreatifitas, Argumentasi tekun dan melihat jauh kedepan sambil mencari manfaat praktis dari suatu ide maupun Penemuan. namun kenyataanya dapat kita lihat Kondisi-kondisi yang terjadi selama Ini tidak seperti yang tertulis diatas, di karenakan terjadinya pergeseran pandangan bahwa kampus sebagai Kantong Perubahan walaupun masih tetap menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi (Pengabdian, Penelitian, Pendidikan).

Dikota palopo sendiri terdapat berbagai  Perguruan tinggi salah satunya UNIVERSITAS ANDI DJEMMA (UNANDA), Univeristas Andi Djemma yang berdiri pada tanggal 19 November 1997 sudah berusia 18 Tahun semejak berdirinya sudah banyak melahirkan Output-output (Alumni) yang memiliki Ilmu dibidangnya masing-masing, Nama yang di pakai oleh institusi perguruan tinggi ini berasal dari salah satu Pahlawan Negara yang berdomisili di Luwu raya itu sendiri yaitu Datuk ANDI DJEMMA, seperi halnya di pelbagai Perguruan tinggi yang ada di indonesia seperti UNHAS (universitas Hasanuddin) dan UGM (Universitas Gajah Mada), Tujuannya selain berciri khas Kedaerahan agar dapat pula mengikuti Spirit tokoh tersebut.

Kalau kita baca Perjuangan Serta Sprit dari Datuk Andi Djemma adalah memiliki Spirit Nasionalisme yang tinggi serta memiliki Spirit Persatuan dan Kesatuan, Seperti contohnya ketika Indonesia telah merdeka ia merupakan Raja yang pertama mengakui Kemerdekan Indonesia dengan mengeluarkan Pernyataan Bahwa Kerajaan luwu merupakan Bagian Negara Republik Indonesia serta memprakarsai pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan pada bulan September tahun 1945 untuk menyatu dengan Negara Republik Indonesia. Selain nama tokoh Pahlawan tersebut yang melekat di Institusi Perguruan tinggi ini ada juga tokoh yang melekat di Insttusi perguruan tinggi ini yaitu To'Ciung. To'ciung adalah salah satu Manusia cerdas yang dimiliki Luwu Raya pada masa itu, To'ciung dikenal dengan To'ciung Maccae Ri Luwu memilik konsep pemikiran mengenai kemanusiaan, penegakan hukum, kesejahteraan, persatuan dan kepemimpinan. jadi kalau UNANDA ingin maju didunia pendidikan Spirit-Spirit dari dua tokoh ini harus dijiwai seluruh komponen-komponen yang ada di UNANDA itu sendiri.

Kembali Kelaptop, Kampus sebagai Kantong Perubahan adalah sebuah keharusan yang tak terbantahkan, Selain kampus mampu mencetak Insan Akedemisi, Teknokrasi kampus pula mampu mencetak Aktivis-aktivis mahasiswa. apalagi melihat Sejarah Bangsa ini eksistensi Mahasiswa dalam Pembangunan tidak bisa kita anggap adalah hal yang Sepele dan biasa saja, mahasiswa telah membuktikan Keberadaannya dalam Perubahan Bangsa, Mulai dari berdirinya budi utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Proklamasi (1945), Kudeta Soekarno (1966), sampai yang masih panas di dalam Diskusi Mahasiswa adalah Peristiwa (1998).

Minimal ada tiga mengapa Kampus Sebagai Kantong Perubahan, yang pertama adalah kampus senantiasa berupaya merealisasikan peranannya sebagai pembaharu dan pelopor bagi perbaikan kondisi kehidupan masyarakat, nilah yang menyebabkan keterlibatan kampus dalam kehidupan politik, karena berbagai tawaran atau usaha-usaha pembaharuan tersebut selalu terkait dengan struktur kekuasaan, Politik kampus adalah politik moral yang sangat berbeda dengan kekuatan politik praktis lainnya(Arief Budiman) lanjut Arif Budiman mempersonifikasikan peran itu dengan sosok “resi”, sebagaimana tertulis didalam bukunya yaitu "Pergolakan Melawan Kekuasaan" yakni sebagai pihak yang selalu mengabarkan kepada rakyat banyak adanya ketidakadilan, kesewenang-wenangan serta meng-influence rakyat untuk bergerak bersama melakukan pengatasan, dan ketika huru-hara tersebut tertangani, maka segenap elemen kampus tersebut kembali lagi ke pertapaannya (kampus) untuk melanjutkan tugas utamanya menuntut ilmu dan memperoduksi agen-agen perubahan yang siap bertarung di tengah masyarakat.

Yang Kedua adalah realitasnya bahwa kampus merupakan sumber politik yang terjadi dibangsa ini, di kampus pula tersedia banyak sekali stock potensi kepemimpinan dan keahlian. Ratusan tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia yang lahir dari asupan Kampus, walaupun tidak bisa Tepiskan bahwa keterlibatan Pesantren dalam Mencetak Pemimpin dan pemikir bangsa ini juga Seperti contohnya Adalah Hadratus Syaikh KH.Hasyim As'ary, KH. Wahab Chasbullah, KH.Wahid Hasyim(Menteri Agama Ke-I RI) serta KH.Abdurrahman Wahid/Gusdur (Presiden Ke-IV RI).

Yang Ketiga Adalah watak kemandirian kampus yang tumbuh dari budaya ilmiah dan cara berfikir kritis, memberi energi besar bagi warga kampus untuk menilai realitas di sekitanya. Sementara itu pemerintah sebagai centrum aktifitas kehidupan masyarakat, juga tak lepas dari perhatian kampus. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan kampus seringkali mesti berhadapan dengan kebijakan pemerintah, karenanya birokrasi cenderung melakukan intervensi ke dalam kampus. Intervensi itu akan semakin membesar dan kadangkala memasung kehidupan kampus, jika kemudian kampus melahirkan gerakan kritis yang berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat adalah akibat keteledoran kebijakan pemerintah.

Oleh Karna Itu, Kampus sebagai Kantong perubahan harus mampu memberikan contoh yang baik dalam menerapkan sistem pendidikan, pembelajaran, pembinaan dan keorganisasian, baik di tingkat mahasiswa maupun rektorat. Alangkah tidak bijaknya apabila kampus justru menjadi tempat pelanggengan budaya otoriter dan tidak menerapkan Konsep kebebasan Berfikir dan Berpedapat, kreatifitas, serta Argumentatif di Kehidupan Kampus itu sendiri.