Sabtu, 10 September 2016

MAHASISWA PROGRESIF ?


Oleh : Masyudi Martani Padang.

Pertama-tama, mari kita tundukkan kepala kita sejenak, mari merefleksikan diri serta merenungi kita ini sebenarnya golongan yang mana ? dan gerakan kita untuk apa serta bagaimana ?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa mahasiswa merupakan manusia-manusia yang memiliki eksistensi yang sangat sakral didalam perubahan bangsa. bagaimana tidak, kehadiran bangsa ini dipelopori oleh beberapa mahasiswa yang dulu disebut "pemuda". yang bersekolah di STOVIA, hadirnya organisasi Budi Oetomo 20 mei 1908 yang didirikan oleh dr. sutomo dkk merupakan cikal bakal pemuda waktu itu terlibat dalam percaturan politik-ekonomi dan sosial bangsa ini serta diperingati sebagai Hari Kebangkita Nasional. dan dipertegas pula sikap pemuda waktu itu melalui kongres ke II pemuda dan mengeluarkan deklarasi "SUMPAH PEMUDA" pada tahun 28 oktober 1928. hingga peristiwa 1998 yang masih hangat didalam hati serta jiwa para mahasiswa saat ini.

Lalu pertanyaannya adalah masihkah mahasiswa Seprogresif dulu ? 

Realitanya dapat kita lihat bahwa adanya kemunduran mahasiswa saat ini, selain permasalahan tingkat kampus yang harus diselesaikan oleh mahasiswa sebagai penyelesaian studynya serta penekanan-penekanan yang dilakukan oleh beberapa oknum perguruan tinggi, contohnya tugas yang terlalu banyak sehingga menyebabkan mahasiswa menjadi seorang copy paste agar tugas-tugasnya cepat selelai. selain itu, penekanan bagi mereka yang mendapat Beasiswa pun juga diitimidasi oleh oknum-oknum kampus, pelarangan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lembaga mahasiswa pun turut menyumbangkan kemunduran gerak dan pemikiran mahasiswa.

Bagaimanakah Mahasiswa Progresif itu ? 

Orang dapat dikatakan progresif ketika menyadari persoalan yang dihadapinya merupakan sesuatu yang melekat pada sistem yang ada (Status quo) "Muhammad Al-Fayyadl". Seorang yang dikonotasikan progresif selalu menyiapkan kemungkinan bagi lahirnya kebaruan, sehingga bersama-sama unsur yang terkait dia bekerja keras mendorong perubahan itu dari segala arah, yang pada gilirannya mendorong transisi dari sistem lama kekondisi dan situasi yang baru terjadi dengan tuntas dan mencapai impian serta cita-citanya. Angkatan 98' contohnya ketika berhadap-hadapan dengan Rezim Totaliter-otoriter Orde Baru, yang berpandangan bahwa Soeharto tidak dapat lagi menjalankan sistem pemerintahan maka dari itu perlu diakhiri untuk menyelamatkan Negara dari kehancuran. Mereke (angkatan 98') bersama-sama elemen lainnya menjadi pelatuk bagi tuntutan pembaharuan sistem secara menyeleruh atau biasa kita dengar dengan kata "REFORMASI". begitupula kalau kita melihat perjuangan angkatan-angkatan sebelumnya 45', 66', 74', hal progresif yang dilakukan mahasiswa angkatan tersebut adalah mampu melengserkan rezim-rezim dzolim dimasanya.

Yang perlu pula dicermati saat ini adalah perubahan arus dunia yang disebut dengan Era Globalisasi, saat ini kita telah dihimpit oleh dua Ideologi besar yaitu LIberalisme dan Fudamentalisme. Liberalisme adalah Ideologi pasar bebas yang dimana semangatnya adalah privatisasi dalam segala aspek kehidupan. Pada konteks politik misalkan ia mengajarkan paham tentang negara yang terbuka kepada mekanisme pasar bahkan menunddukan negara terhadap permintaan pasar, sehingga Sumber Daya Negara dapat diperjual belikan terlepas dari kepentingan negara bersangkutan. dalam dunia pendidikan pun tidak lepas dari proses Liberalisasi, Dunia pendidikan dalam era ini dijadikan sebagai Komoditas-komoditas atau perusahaan yang mencetak tenaga-tenaga ahli untuk siap memasuki pasar bebas, sehingga menyebabkan dunia pendidikan menjadikan Siswa-Mahasiswanya sebagai Objek dan bukan Subjek dari pengajaran yang ada, menjadikan manusia yang menempah ilmu jauh dari rasa Humanisnya, mungkin perlu kita lihat kembali pernyataan Paulo Friere yang mengatakan bahwa Dunia Pendidikan Melanggengkan apa yang ia sebut adalah Proses Dehumanisasi, Masyarakat secara Dogmatik dan Indoktinisasi menerima kebenaran atau ajaran secara Mutlak tanpa ada proses atau mekanisme untuk memahami makna sebab-musabab dari setiap ajaran yang ia pelajari. proses ini Paulo Freire katakan Sistem Pendidikan ala Gaya BANK. 

Dalam Dunia Agama, Liberalisme mendorong individualisme agama, menjadikan agama urusan pribadi yang lepas dari hubungan sosialnya, memangkas agama dari kaitannya dengan persoalan-persoalan stuktural masyarakat. banyak orang beranggapan bahwa Fudamentalisme hadir sebagai Reaksi atas Liberalisme, Lalu, Pertanyaan adalah bagaimana kita akan mencapai kebenaran ketika pikiran telah berpandangan Fudamentalis Mengajarkan Dogmatisasi dalam beragama, mendorong umat untuk kembali kepada ortodoksi agama secara kaku dan sempit. mengajarkan agama dengan jalan pemaksaan dan indoktrinisasi sehingga pada dasarnya bersifat Anti-Sosial dan Eksklusif. menundukkan masyarakat dengan kepatuhan ekepada satu otoritas tunggal, sehingga tidak memberi keluluasaan kepada masyarakat untuk membangun ijtihadnya secara kolektif ?

Lebih dari satu dekade berjalanannya Reformasi, kita menyaksikan pertarungan dua Ideologi ini, semakin tampak bahwa pertarungan keduanya berkutat pada kesibukan untuk memperdebatkan kebenaran agama, tanpa peduli apakah hal itu berdampak baik bagi masyarakat ataupun tidak. Pertarungan dua Ideologi ini sangat berpengaruh menambah keruyaman Sosial-politik-ekonomi yang terjadi dinegara saat ini. Lalu kemanakah Peran mahasiswa saat ini ketika Negara berhadapan dengan dua pertarungan Ideologi tersebut ? saat tulisan ini ditulis disalah satu media mengatakan bahwa sekitar 14 presiden BEM mendukung salah satu calon di PILKADA DKI DJAKARTA, yang seharusnya BEM merupakan wadah Mahasiswa ditingkat kampus harus Netral dalam bersikap tidak ikut mencampuri urusan perpolitikan apalagi sampai mendukung salah satu calon secara vulgar.

BEM, SENAT serta HIMPUNAN misalkan ditingkat kampus merupakan salah satu unsur peningkatan kualitas kampus tentu memiliki hak untuk terlibat dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di kampus. Hak yang dimaksud bukan hanya dimaknai bahwa mahasiswa berhak mendapatkan pendidikan yang layak dengan ruangan belajar yang nyaman, wc yang tidak tersumbat, atau perpustakaan yang penuh dengan referensi yang menyegarkan. Tapi, mahasiswa juga berhak untuk terlibat dalam merumuskan kebijakan yang mendukung dalam peningkatan kualitas intelektual, serta terlibat dalam mentransformasikan dan memperbarui sistem pendidikan yang diterapkan agar sesuai dengan konteks zaman. Singkatnya, mahasiswa sebagai bagian dari kampus menjadi pelaku aktif dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang mencerahkan dan mencerdaskan. Menurut David Harvey yang menjelaskan tentang hak atas kota yang sudah diracuni oleh perkembangan kapitalisme-liberal. Hak atas kampus merupakan upaya merebut kontrol atas kampus sebagai upaya perjuangan kelas yang revolusioner. Pembangunan gerakan sosial yang progresif, massif, terorganisir, dan tersistematis menjadi sangat penting untuk merebut kembali hak atas kampus. Perspektif ini memberikan pandangan baru bahwa pengambil kebijakan tertinggi di kampus adalah semua unsur itu sendiri, termasuk di dalamnya mahasiswa, yang dengan aktif berpartisipasi secara kolektif. Dengan demikian, usaha merebut hak atas kampus merupakan bagian dari perjuangan kelas yang revolusioner, yang harus dibangun oleh gerakan mahasiswa.

Lalu, itukah yang dimaksud Sebagai Mahasiswa Progresif ?
Wallahuwalam Bisshawab.

Salam Mahasiswa !!!
Palopo, 11 September 2016




0 komentar:

Posting Komentar