Sabtu, 09 April 2016

MILAD 14 FISIP UNANDA : REFLEKSI DIRI DAN KELEMBAGAAN




"Wacana yg diulang-ulang tanpa bergerak sedikitpun hanya akan mengasilkan sifat dan rasa Antipati serta inkonsistensi terhadap objek wacana" (B)

Oleh : Masyudi Martani Padang

Prawacana


Benar atau tidaknya, sadar atau tidaknya, ternyata selama ini segudang wacana hanya ada di mulut para pemberi wacana itu sendiri. Gerakan mahasiswa Fisip pada tahun 2000-an ternyata mendapat tempat keemasannya sendiri, Fisip unanda yg selama ini diceritakan di para generasi barunya hanyalah bersifat romantisme dalam gerak dan tingkah lakunya tanpa mengambil pelajaran dari sejarah tersebut.


Mahasiswa merupakan kaum terpelajar yang pada sejarahnya turut andil dalam perjuangan bangsa. Dicap sebagai kaum intelektual, menjadikan mahasiswa sebagai orang yang bertanggung jawab atas persoalan yang ada di masyarakat. Dibekali dengan pengetahuan akan wacana untuk menganalisis persoalan, mengharuskan mereka untuk mengaktualkannya pada ranah sosial untuk menciptakan perubahan.


Dalam dunia kemahasiswaan, biasa kita menjumpai perbincangan tentang kebiasaan-kebiasaan yang menjadi budaya di kalangan mahasiswa sebagai kaum intelektual. Kebiasaan yang dimaksud adalah kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi. Budaya tersebut menjadi ciri khas bagi mahasiswa karena kesehariannya lebih banyak bergelut dengan suasana yang menunjang berkembangnya pengetahuan.


Diluar dari Budaya tersebut dalam posisi Gerakan Mahasiswa harusnya kita percaya bahwa sebuah organisasi atau kelembagaan (Baca : Kelembagaan mahasiswa intra Kampus) yang rapi dan massif harus mengandaikan terbentuknya faktor-faktor produksi, distribusi dan wilayah perebutan. Tanpa mengunakan logika ini maka gerakan akan selalu terjebak pada heroisme sesaat dan kemudian mati tanpa meninggalkan apa-apa selain kemasyuran dan kebanggaan diri belaka. Katakanlah kita sedang akan membangun sebuah gerakan maka dimana wilayah perebutan yang akan kita temui dan oleh karena itu apa yang harus kita produksi dan mengunakan jalur distribusi seperti apa agar produk-produk gerakan kita tidak disabotase di tengah jalan. Rangkaian produksi-distribusi-perebutan ini adalah sebuah mata rantai yang tidak boleh putus, karena putusnya sebuah mata rantai ini berati matinya gerakan atau setidak-tidaknya gerakan hanya akan menjadi tempat kader-kadernya heroisme-ria. Dan yang lebih penting bahwa gerakan semacam ini akan lebih mudah untuk di aborsi.


Yang pertama-tama perlu di kembangkan di Fisip Unanda (Baca : Senat Mahasiswa) adalah bahwa sejarah itu berjalan dengan masa lalu, bukan karena semata-mata masa lalu itu ada, tetapi karena masa lalu telah membentuk hari ini dan hari esok. Artinya capaian tertinggi dari sebuah organisasi Intra Kampus adalah ketika satu generasi telah berhasil mengantar generasi berikutnya menaiki tangga yang lebih tinggi dan memajukan organisasi serta Universitasnya.


BERCERMIN DARI MASA LALU


Diawal terbentuknya, Fisip unanda tahun 20 april 2002 (Baca : Senat Mahasiswa), diisi oleh kelompok yang dikategorikan pada saat itu sebagai kelompok pekerja (Baca : PNS, dllnya) bukan diisi oleh kelompok-Kelompok yang lulusan murni ditingkat SMA, pertanyaan yang biasa muncul mengapa di awal berdirinya di tahun 2002 fisip selalu menbawa perubahan dan kemajuan untuk Universitas yang menaunginya diisi oleh kelompok yang dikatakan tadi, sedangkan hari ini diisi oleh kelompok yang merupakan lulusan murni dari Tingkat SMA mengalami kemunduran yang signifikan ? polemik yang tengah terjadi diperjalanan fisip unanda itu sendiri telah mempengaruhi perkembangan Fisip (Baca : Senat Mahasiswa), tanpa menafikkan perubahan sosial, politik dan ekonomi pun yang telah terjadi dibangsa ini sangat mempengaruhi Gerakan Mahasiswa Diperguruan Tinggi dan swasta.


Setelah terjadinya perubahan dibangsa ini yang mengasilkan semangat reformasi pada tahun 1998-1999 sebagai jawaban atas kejenuhan warga dan masyarakat dari kungkungan pemerintahan yang otoriterarian dan totalitarian, semangat Reformasi ini tersebar luas diberbagai daerah dan pelosok-pelosok negeri tak terkecuali di perguruan tinggi dan swasta serta mahasiswa, Sebagai lembaga yang lahir di Era Reformasi Fisip Unanda pun tak mau kalah dengan lembaga-lembaga Kemahasiswaan intra kampus lainnya, dengan Program yang progresif terhadap Pengembangan Sumber daya Manusia ditunjukan sebagai manifestasi cinta almamater.


TANTANGAN MAHASISWA DIERA GLOBALISASI


Dalam dunia kemahasiswaan, biasa kita menjumpai perbincangan tentang kebiasaan-kebiasaan yang menjadi budaya di kalangan mahasiswa sebagai kaum intelektual. Kebiasaan yang dimaksud adalah kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi. Budaya tersebut menjadi ciri khas bagi mahasiswa karena kesehariannya lebih banyak bergelut dengan suasana yang menunjang berkembangnya pengetahuan.


Dalam realitas dunia kemahasiswaan (Baca : SENAT MAHASISWA FISIP UNANDA), budaya membaca, menulis, dan berdiskusi kian menghilang seiring berkembangya zaman. Kini sangat susah ditemui mahasiswa yang membaca buku-buku pergerakan dan buku-buku yang lain. Apalagi mahasiswa yang mendiskusikan tentang segala persoalan yang terjadi disekitarnya (Baca : Kampus Dan masyarakat). Barangkali mahasiswa sekarang tidak mampu menjadi manajer bagi dirinya sendiri dalam hal mengatur kesibukannya, untuk meluangkan waktu membaca, menulis dan berdiskusi saja mereka tak mampu. faktor yang lain adalah kemalasan yang ,merambati kehidupan mahasiswa, Malas adalah penyakit manusia modern yang terlalu dimanjakan oleh teknologi. Dampaknya kemudian adalah menjadikan mahasiswa malas untuk melestarikan budaya intelektual tersebut.


Merosotnya budaya intelektual dikampus tentu berefek pada melemahnya gerakan-gerakan yang dibangun, serta penyusunan program-program yang progresif, untuk menghasilkan Output-Output yang mempuni untuk menghadapi tantangan Zaman, Kurangnya referensi dalam merumuskan strategi dan program kerja untuk mencapai tujuan Organanisasi menjadi penyakit di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini. Analisis yang tumpul membuat mahasiswa hanya dipandang sebelah mata dan bukan lagi sebagai Kaum intelektualis ataupun agen perubahan, gambaran diatas merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapai oleh Mahasiswa di Era Globalisasi, apalagi kalau kita melihat Merosotnya Kelembagaan Seperti Senat Mahasiswa Fisip Unanda salah satunya disebabkan hilangnya budaya Diskusi, Menulis dan Membaca dikalangan mahasiswa Fisip Itu sendiri.

Tantangan yang terakhir adalah revitalisasi militansi dalam setiap jiwa mahasiswa. Organisasi mahasiswa bukanlah sebuah event organizer apalagi mengingat Fisip Unanda merupakan lembaga yang juga Mengkaderisasi mahasiswanya untuk menciptakan Manusia yang berintelektual, bertaqwa dan bertanggung jawab atas bangsa dan negara serta memajukan kampus yang menaunginya. Tidak perlu menjadi mahasiswapun kita mampu untuk menggalang dana, tidak perlu menjadi mahasiswapun kita mampu untuk merancang sebuah event besar. Tidak mengesampingkan manfaat dan pahala yang dilakukan dalam kegiatan sosial, namun ambigu rasanya ketika kita ingin menegaskan kepedulian sosial, terhadap masyarakat yang terkena bencana melalui penggalangan dana di jalan, namun ketika hak-hak masyarakat diinjak-injak oleh para penguasa, mahasiswa terdiam seribu bahasa.

Selain itu pula, Sikap pragmatisme dan hedonisme yang dilakukan oleh mahasiswa dewasa ini membuat diriya terjebak dalam ruang praktis tanpa berusahan keluar dari kondisi praktis seperti itu, andri wislawawan pernah menuliskan tentang Gerakan mahasiswa di era Kontemporer, ia mengatakan bahwa Jangankan berbicara tentang intelektualitas, membaca buku saja mungkin sangat jarang. Mahasiswa saat ini terlalu fokus terhadap pengetahuan, namun terlupa akan hal yang paling penting yaitu, ilmu untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut. Budaya intelektual sudah terganti dengan orientasi struktural, bahkan organisasi mahasiswa yang notabene adalah poros revolusi dan penggerak perubahan sosial, malah menjadi seperti sebuah event organizer dengan proposalnya. Jadilah gerakan mahasiswa saat ini semakin terkapar di tengah-tengah zaman yang terus berjalan. Oleh karena itu dituntut untuk meredefinisi ulang makna mahasiswa. Langkah yang paling konkrit yang harus diambil mahasiswa adalah profesional.


MILAD KE-14 SEBAGAI MOMENTUM REFLEKSI DIRI DAN KELEMBAGAAN


Sebentar lagi Senat mahasiswa Fisip unanda memperingati Milad yang Ke 14 thn semenjak berdirinya ditahun 2002, permasalahan-permasalahan Pokok yang telah terjabarkan diatas bisa menjadi sebagai bahan Refleksi Diri (Baca : Mahasiswa) dan Kelembagaan.
 
Kayaknya kita harus menengok apa yang dikatakan oleh Arnold Toynbee yang mempercayai perkembangan peradaban ditentukan oleh segelintir manusia kreatif. Manusia yang mampu merespon dengan baik tantangan perubahan lingkungan. Lalu diikuti oleh mayoritas sehingga mereka membawanya ke tingkat peradaban yang lebih tinggi. Ukuran minimalnya bisa dibaca dari kemajuan institusi pendidikan dan sains serta produk-produk yang disebabkan olehnya.

Kata Refleksi yang dusung penulis, bisa diartikan sebagai perwujudan untuk menggali kembali kemampuan dan pencapaian-pencapaian yang selama ini telah dilakukan oleh Senat Mahasiswa Fisip itu Sendiri untuk mempertegas dirinya sebagai lembaga yang mampu menciptkan dan mengasilkan Output-output yang mempuni dalam menjawab tantangan Zaman yang semakin kesini semakin Edan serta Mempertegas visi-misinya sebagai lembaga Kemahasiswaan.

Soe Hok Gie dalam tulisannya pernah berkata bahwa “di Indonesia, hanya ada dua pilihan. Yaitu menjadi idealis atau apatis”. Ketika mahasiswa saat ini memilih tunduk kepada penguasa, saat itu juga dia menjadi seorang apatis. Semakin mendekat ke kekuasaaan, malah akan mengaburkan antara kepentingan rakyat dan kepentingan pribadi. Dengan iming-iming beberapa lembar rupiah, gerakan mahasiswa bisa ditunggangi, sehingga dia ibarat singa yang ompong. Idealisme dan militansi adalah sepasang kaki kiri dan kanan yang tidak bisa berjalan sempurna jika salah satunya hilang. Maka untuk menghilangkan pragmatisme yang begitu akut menyerang gerakan mahasiswa, militansi dalam setiap jiwa pejuang mahasiswa harus terus dikobarkan, bagi mahasiswa tidak ada kata sempurna terhadap sebuah sistem, sistem tersebut harus terus dievaluasi dan diperbaiki secara terus menerus. Tidak ada lagi sowan cium tangan terhadap penguasa, seharusnya mereka yang tunduk kepada para mahasiswa yang merupakan pengusung suara rakyat. 

Sudah saatnya mahasiswa membunuh watak egoistik dan sektarianisme sebagai usaha mewujudkan nalar solidaritas. Sudah saatnya mahasiswa berbenah diri, merekonstruksi cara berfikir dan bertindak, memeras otak dengan pengetahuan akademis, menggerus pemikiran dengan pergulatan keilmuan, membentuk nalar kritis dengan objektif dan rasional. Sudah saatnya menjadi diri mahasiswa yang berwatak professional. Dan yang paling penting bisa memimpin dirinya sendiri untuk memimpin mahasiswa atau orang lain. Semoga Bermanfaat. JAYALAH FISIP UNANDA, JAYALAH UNTUK KITA SEMUA..

Kamis, 07 April 2016

KEPEMIMPINAN : BUKU DAN PERADABAN


Opini : Admin

Bung Karno sebagai peletak indonesia modern merupakan seorang yang bisa dkategorikan sebagai manusia Blibliophile (Baca : Pencinta Buku), Sehingga kemana pun ia pergi ia selalu membawa buku-bukunya, pengasingannya di dalam penjara Bengkulu pun hanya membawa buku untuk menemaninya didalam pengasingannya pada waktu itu. lain halnya Bung Karno, Bung Hatta pun berbuat demikian, didalam setiap perjalanannya ia mengikut sertakan buku-bukunya dengan jumlah koper yang banyak usai menyelesaikan studinya dibelanda, Mereka hidup dari berbagai buku walapun mereka jauh dari aktifitas Politik dan hingar-bingar pada saat itu namun mereka bisa memahami apa yang telah terjadi diluar sana.

Pleidoi Indonesia menguggat-Nya Bung Karno serta Indonesia Merdeka-Nya Bung Hatta yang menjadi karya besar yang ditulis didalam penjara yang mengispirasi terjadinya pergerakan rakyat serta benua lain dan membuat geger pemerintah Hndia-Belanda, mustahil tanpa ditopang oleh bacaan dari berbagai buku yang ia baca dalam penjara, lain halnya Bung Karno dan Bung Hatta, KH. Abdurrahman Wahid yang dibebaskan oleh ayahnya mendekati beberapa buku, buku perkulihan pun dilahapnya bahkan ia kuasai sedemikian rupa apa yang dijelaskan dan digambarkan oleh suatu buku tersebut. terlepas dari pembahasan dari beberapa tokoh diatas mungkin anda bukanlah orang yang beruntung menjadi seperti mereka, ayo kita identifikasi diri kita sejauh mana kita mencinta buku dikehidupan kita sehari ?

Keadilan alam terletak pada sifat mahluk hidup yang saling antagonistik. Saling bertentangan tapi juga dapat bergandengtangan. Sayangnya, ini seperti rantai makanan. Semakin ke atas semakin sedikit meski yang sedikit itu tidak berarti dapat dikatakan lebih baik. Dari sisi persentase, sebagian besar manusia tidak terlalu menggandrungi buku. Ada yang lebih asyik membaca alam daripada membaca teks. Ada yang lebih sibuk belajar dari pengalamannya sendiri, hanya membuka sedikit ruang dari pengetahuan dan pengalaman orang lain. Ada yang sangat terpaksa akibat tuntutan nilai dari sekolah dan kampus. Ada yang membaca sesuai feeling dan ketepatan momentum. Ada yang membaca seketemunya barang apa saja yang dia bisa baca karena ketidakmampuan finansial. Bahkan, ada juga yang sama sekali hanya mau membaca papan iklan, merk pakaian, atau lembar tagihan. Kesemuanya sah dan halal di jagat raya.
Sejalan dengan hal yang saya utarakan diatas seorang pemikir dunia Arnold J Toynbee yang mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa bisa dilihat dengan kehadiran Komunitas Kreatif yang akan menggerakan sejarah peradaban, maksudnya Manusia yang mampu merespon dengan baik tantangan perubahan lingkungan. Lalu diikuti oleh mayoritas sehingga mereka membawanya ke tingkat peradaban yang lebih tinggi. Ukuran minimalnya bisa dibaca dari kemajuan institusi pendidikan dan sains serta produk-produk yang disebabkan olehnya.
Peradaban hasil kombinasi dari mereka yang menjadi pecinta dan kurang cinta buku. Komposisinya selalu lebih dominan dilakukan oleh mereka yang mencintai buku. Pecinta buku mampu mencampurkan banyak ide dan mengaduknya dengan ide segarnya sendiri. Hasilnya, berbagai inovasi. Sementara yang kurang cinta, dibutuhkan sebagai followers. Meskipun ada di antaranya terdapat elite yang dibekali insting kecepatan dan ketepatan layaknya ayunan pedang di medan perang. sudah jelas berbeda dengan ramalan Karl Marx dalam manifesto Komunisnya yang menitikberatkan Kaum Proletar Sebagai penggerak Sejarah dan peradaban, berbeda pula dengan Pemikiran Adam Smith (Kakek pemikiran Kapitalisme-Leberalisme) yang lebih menitik beratkan Pasar Bebas sebagai Kemajuan Bangsa dan Peradaban.
Nampaknya Warisan membaca buku yang telah diperlihatkan oleh beberapa pemimpin bangsa ini bukan lagi merupakan hal yang mengasikan di kalangan kawula muda yang ingin menjadi pemimpin dibangsa ini, cukup hanya bermodalkan jaringan (Kenalan), dengan ditopang Kapital yang banyak yah bisa menjadi pemimpinlah, walaupun tanpa bisa membaca arah gerakan dunia saat in, ini pula sejalan dengan apa yang dikatakan oleh KH,Hasyim Wahid bahwa apapun yang terjadi di bangsa ini bukanlah hal yang natural terjadi namun merupakan Konspirasi dan Konstelasi yang telah terjadi di Global, Kalau kita cermati apa yang diramalkan oleh Toynbee bisa kita simpulkan bahwa pilihan kita menjadi minoritas atau ingin menjadi Mayoritas itu ada ditangan anda, mau mewarisi Gerakan Pemimpin dahulu yang menjadi manusia pencinta buku itu juga ada ditangan anda, namun beruntungkah anda bisa seperti demikian ?