Sabtu, 14 November 2015

REALITA SOSIAL : WARNA-WARNI


Oleh : Masyudi Martani Padang

Realitas Sosial merupakan suatu peristiwa yang memang benar terjadi di masyarakat. contohnya, seorang pemulung mencari nafkah dengan mengorek sampah,pengemis dijalan, itu sebagian kecil yang terjadi ditengah masyarakat dewasa ini. Namun, Bukan itu fokus Pembahasan Penulis.

Realita Sosial hari ini adalah warna-warni yang bercampur aduk, kita dapat lihat nilai-nilai membaur, maksudnya kita sering Melihat dikoran-koran tentang berbagai Peristiwa di Era Globalisasi Buruk dan negatifnya, namun ketika Kata Globalisasi itu Keluar dari mulut anda tidak Seklise apa yang dituliskan di Koran-koran. nampak semuanya sudah berbaur, nilai kebaikan dan keutuhan tidak lagi nampak mendominasi, kawan dan lawan seakan semuanya tidak berarti lagi, sekat-sekatan dan pengkubuhan Satu pihak ataupun kelompok nampaknya juga sudah hilang.

Dari realitas yang terjadi Saat ini, adapula hal yang tidak dapat penulis pahami, seperti contohnya kuatnya mental seseorang Perempuan ataupun laki-laki dalam berpacaran atau yang sudah menikah, ada seorang istri yang biasa-biasa saja melihat kelakuan Suaminya yang tengah bermain (bergombal-Gombalan) dengan Perempuan lain, bahkan ada yang lebih ekstrim seorang istri memperbolehkan suami bercinta di ranjang yang ia biasa pakai bersama suaminya, mustahil bagi saya dapat memahami kejadian seperti itu, contoh lainya adalah suami yang menjual istrinya demi hanya untuk kebutuhan hidup, pagi-pagi sang suami bersiap-siap mengantar Istri ke tempat-tempat prostitusi dan tengah malam menjemput istrinya setelah selesai melaksanakan tugasnya.

Dari beberapa Film yang penulis saksikan pula mendapatkan kejadian tersebut, rata-rata Aktor perempuannya ataupun laki-lakinya adalah seorang manusia yang sudah mempunyai Pasangan hidup dan anak, bagaimana kita bisa membayangkan bina kasih yang dilakukan aktor tersebut sehingga rela melihat pasangannya berciuman dengan siapapun sesuai dengan skenario, produser serta sutradara. dapat kita lihat juga dari seorang ibu yang menjual anaknya kepada orang lain dan membuangnya disembarang tempat, masih banyak lagi conto-contoh dari warna-warninya Realitas Sosial hari ini, para wanita yang bergelut dibidang model memaparkan kondisi tubuhnya di majalah-majalah, koran dllnya. serta para lelaki yang mempunyai pacar asik bertengkar berhari-hari dengan pasangannya dikarenakan pasangannya sedang kedapatan Ber-Chat,Sms,Nelponan, dllnya dengan seorang pria lain, namun ia pula melakukannya, ataupun sebaliknya seorang permpuan tidak mau berbicara dengan pasangannya berminggu-minggu dikarekan perempuan ini mendengar gosipan segelincir orang yang sebenarnya hanyalah kentut Sosial. namun semuanya seakan kondisi yang Wajar-Wajar saja. wajar itu merupakan Warisan Budayakah ?

Seseungguhnya kita telah memasuki Jaman kebebasan dan tidak adalah lagi batasan-batasan sehingga apapun yang terjadi dalam lingkungan kita adalah suatu kewajaran walaupun dampak yang dihasilkan kejadian itu Klise, negatif serta buruk untuk diri kita. Nilai-nilai sosial-kultural-lokal yang dimiliki masyarakat sudah berbaur dengan Nilai-Nilai Universal menyebabkan terjadinya pergeseran budaya yang kita miliki, kalau kita tidak sadar akan hal itu maka kitapun iktu dengan kebanyakan manusia lainnya.

Jumat, 13 November 2015

DUNIA TAK SELUAS HANDPHONE




DUNIA TAK SELUAS HANDPHONE
Oleh : Effendy Ar@w
 
Pernah mendengar orang di sekitaran anda mengeluarkan kalimat “Bisa tolong letakkan dulu ponselnya, saya mau ngomong sesuatu.” atau “Kamu pilih Handphonemu atau saya..? Jawab pertanyaan Abang, Dek. Jawab...!” Lalu, si nganu kesal dan pergi dengan membawa sejuta kejengkelan. Atau, ada sekumpulan orang yang tidak berani menegur secara langsung tapi menyindir lewat status di dunia maya, terus secara tiba-tiba langsung mengajak pulang. Ataukah si nganu memilih diam saja, mungkin karena memang cuek atau kurang enak untuk menegur, dengan alasan memilih untuk menyimpan segala kekesalannya itu di dalam hati saja. Dengan motto: cukup dia dan Tuhan yang tahu, dan berharap semoga waktu segera menyadarkan si pelaku. Hmm Super sekali..

Inilah fenomena di mana yang dekat mendadak jauh dan yang jauh selalu dekat, kebalikan dari para penjual obat di pasar-pasar. Sebagian besar dari kita mungkin saja pernah jadi pelaku ataukah sebagai korban kejadian ini. Buktinya anda begitu khusyu membaca tulisan ini. Anda lupa kalau ada teman yang dari tadi manyun di depan atau di samping anda. Tetapi semoga sikorban yang manyun itu tidak sedang di atas atau di bawah anda (tepok jidat).

Inilah zaman dimana kita tidak lebih penting dari handphone. Menghadirkan kesunyian di tengah keramaian. Menggadaikan dunia nyata demi dunia maya (coba Luna Maya, emang Ariel Noah saja yang Mau..?). Bukan hanya di kampus, Sekolah, Warkop, mungkin juga di beberapa teras rumah ibadah, di taman-taman kota, di pojok-pojok tempat kencan anda dengan sang kekasih, ataukah di temapat-tempat lainnya. Ibarat sebuah hubungan, ini semacam cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Salahmu sendiri, berkencan tapi masih sibuk dengan handphone masing-masing..? Kenapa tidak pacaran jarak jauh saja..? Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Selain tidak jomblo anda juga bisa tetap fokus ke layar handphone sepanjang waktu, enak, kan.?! di samping tidak adalagi yang baper. Ayolah, Like dan share, setelah itu letakkan dulu ponselmu diposisi yang hanya kamu dan Tuhan yang tahu, serumputlah teh atau kopi panas disampingmu, sekaligus ajak mereka yang manyun-manyun di sekelilingmu itu ngobrol dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Simple kan, Gitu aja kok repot.

SUMPAH ITU SAMPAH

SUMPAH ITU SAMPAH
Oleh : Effendy Ar@w
 
Semalam, penulis berjalan-jalan di salah satu sudut kota dengan slogan "Mapaccing Toda" yang senafas dengan slogan "Tidak Rantasa". Sembari menikmati udara yang cukup segar setelah kota ini di guyur hujan di awal bulan November. Chieile "November Rain" hahaha. 

Seperti biasanya mata saya binal, suka lirik sana dan lirik sini. Tak hanya mengamati ABG yang berbadan semok, bercelana pendek ketat kira-kira sejengkal di atas lutut, tentu dengan penampakan bekas luka yang menghitam. Memanjakan memang, hanya saja pandangan saya tiba-tiba membelakak ketika melihat tupukan sampah berserakan karena tempat sampah yang tersedia telah full.

Sebenarnya bukan soal sampah itu yang menjadi fokus utama saya, tetapi lokasinya itu lho... ya lokasinya tepat di depan pagar salah satu sekolah agama/madrasah di poros balandai. Anda bayangkan masyarakat harus menumpuk sampah di depan sekolah Agama (Gila kan...). Entahlah pengelola sekolah itukah yang gila karena tak komplain. Masyarakatkah yang gila karena rela menumpuk sampah di depan sekolah agama yang merupakan laboratorium utama pencetak ulama..? Atau Pemerintah (Dinas Kebersihan) yang gila karena telah membuat bak penampungan di lokasi itu...? Ataukah ajaran Agama telah gila sehingga layak untuk di lecehkan dengan sampah..? Bisa jadi saya saja yang gila karena asal nulis...? Yang kemungkinan akan justifikasi sebagai penulis tak beretika dan tak sopan santun. Meskipun pembiaran membuang sampah di sekitaran sekolah adalah pembunuh etika dan moral serta kesopanan sekaligus.

Sampah merupakan material sisa baik dari hewan, manusia, maupun tumbuhan yang tidak terpakai lagi dan dilepaskan ke alam dalam bentuk padatan, cair ataupun gas. Apakah kita pernah menyadari bahwa sesungguhnya sesuatu yang dianggap sampah itu tidak pernah terbuang dalam pengertian yang sesungguhnya..? Ini artinya bahwa sampah sebenarnya masih disekitar kita, hanya berpindah tempat saja, misalnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), kecuali sampah yang dapat diurai oleh lingkungan.

Permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi hal yang akan terus terjadi. Di beberapa kota besar, gerakkan untuk lebih peduli menjaga kebersihan sudah mulai sering dilakukan. Pemerintah kota Jakarta misalnya, mulai membangun beberapa tempat sampah di setiap sudut jalan, dan membuat tempat khusus untuk sampah organik dan sampah non-organik. Meskipun hari ini marak menjadi perbincangan, bahkan berhasil mengadu duo putra belitong antara Ahok dan Yusril Izha Mahendra yang keduanya kandidat president kedepan. Sungguh menarik bukan persoalan sampah itu.
Tekad untuk membuat Indonesia menjadi bersih sudah dilakukan dengan melakukan gerakan Indonesia bersih pada tahun 2020 yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Pemerintah aktif mengajak masyarakat untuk mengurangi jumlah sampah dengan kegiatan Reduce, Reuse dan Recycle (3R). Reduce adalah mengurangi sampah dari bahan plastik seperti botol minuman. Reuse yaitu menggunakan kembali barang bekas seperti kaleng bekas makanan atau minuman untuk dibuat menjadi beberapa peralatan seperti celengan, atau tempat alat tulis. Sementara Recycle yaitu mendaur ulang sampah, seperti membuat kerajinan tangan dari sampah plastik atau barang bekas yang tidak terpakai. Kegiatan ini lebih efektif dari pada tidak memberdayakan sampah atau membuang sampah sembarangan karena dapat menganggu kesehatan.

Selain itu ada alternatif lain yang bisa Anda lakukan untuk mengelola sampah dengan baik, yaitu: Membuang sampah pada tempatnya di mana pun Anda berada. Jika Anda tidak menemukan tempat sampah, simpan dulu sampah di dalam tas Anda, dan buang pada tempatnya bila sudah menemukan tempat sampah. Kurangi penggunaan plastik yang berlebihan karena dapat merusak lingkungan dan merusak kesehatan dalam waktu jangka panjang. Atau memisahkan tempat sampah organik maupun non organik.

Sekarang, saatnya membuat satu resolusi baru yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat Indonesia. Menuju Indonesia sehat, sekarang kita mulai peduli lingkungan kelola sampah dengan baik. Kurangi pula aktifitas mendaki gunung, dan berselfie dengan menulis di atas kertas semisal "Joness Kapan Kesini...?" Sembari memajang di media-media soaial. Kasihan kan gunung itu kotor karena oknum tak bertanggung jawab. Padahal, dalam melakukan pendakian, yang harus selalu diingat adalah: “Jangan ambil apapun kecuali foto, dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak dan kenangan manis”. Lha ini yang ditinggalin malah sampah..?
 
Semoga saja saya, anda, juga mereka lagi membuang sampah di depan madrasah dan tak tergolong sampah masyarakat. “Sampah masyarakat" itu bukan orang-orang yang dijalanan, bukan juga yang tuna susila, apalagi mahasiswa tidak jelas kapan lulusnya. Tetapi, sampah masyarakat itu ya para koruptror itu. Jadi wakil rakyak korupsi, jadi pengacara korupsi, jadi hakim korpusi, jadi apapun mereka tetap saja korupsi

ANEH DAN TIDAK NYATA

ANEH DAN TIDAK NYATA
Posted by Angga Mayolus Linus

Saya saran kepada anda, agar tidak membaca tulisan ini hingga akhir. Apalagi jika anda tidak terbiasa dengan keanehan, lalu anda melihat tulisan ini benar-benar nyata adanya.

Anehkan negeri kita ,coba bayangkan dan jangan berharap membayangkan kalau tidak ada perjuangan dan usaha untuk suatu tujuan. Lihat saja seragam mereka yang di kelilingi oleh bintang-bintang kecil yang menghiasi dan disertai oleh pernak-pernik yang berkilau tetapi diselimuti oleh debu efek kemarau. Saya rasa itulah ciri khas mereka dalam pembelaan jabatannya. Tapi akan kah mereka membela terhadap kesengsaraan pembuat seragamnya, (omong kosong). hanya dengan selembar kertas bernilai yang mereka miliki untuk membela kekuasaannya dan seragamnya. Tidak lama lagi kemarau akan berganti,tetapi saya yakin debu yang di seragamnya tdk akan pernah pudar. Sudahlah membahas seragam ...Pukul 07:30 WITA senin pagi menuju anak sekolah pedesaan dengan langkah kaki kecil mengejar suatu kewajiban dan cita-citanya. Alas sepatunya di selimuti oleh lumpur, betapa berat perjuangan mereka, hanya demi megibarkan bendera merah putih. salah satu contoh anak anak serius akan pengetahuanya walaupun tidak di seriusi (lagi lagi penindasan).

Kita beralih ke kota kotaan, hahaha saya tertawa dulu...., kota yang di penuhi keseriusan tidak jelas, lihat saja dari siswa yang memakai seragam putih biru sampai pudar menjadi putih abu abu karena efek deterjen kadaluwarsa. Aktivitasnya hanya melaksanakan kewajibannya, hahaha saya juga tersinggung akan hal itu. Eksistensi siswa sekarang hanya bermodal penampilan luarnya, kayak selebritis aja padahal backgroundnya ikan lureee (saya hanya pilih ikannya) orang tuanya menyuruh untuk bersekolah, tapi siswa sekarang hebat mempunyai banyak sekolah dengan fasilitas yang memadai(sok kaya) padahal lalung-lalang di pinggir trotoar dan lampu merah. Bersekolah pun terpaksa orang tuanya berusaha peras keringat banting tulang. saya turut prihatin kepada fasilitasnya(bukan pemakainya) sudahlah itu hanya basa basi saya saja, tapi penting untuk di pahami dan direnungi.

Ketika semuanya menjadi kenyataan, bahwa negeri kita ini bagaikan film yang sering kita saksikan di siaran-siaran yang di penuhi oleh sandiwara, bahasa kekinian "bisanya inul " meski inul pun tak tau akan bahasa kekinian tersebut. Saya berharap pemikiran kita ini jangan menyusaikan dengan judul lagu syarini, maju mundur maju mundur cantik, anehkan...?, dimana eksistensi para aktor layar kaca dan para pemilik kursi kekuasaan yg rodanya hanya bisa bergelincir kesana kemari. pandai bersandiwara dan menjadikannya sebagai budaya, entah apa mau mereka..? dalam alkitab Tuhan berkata "Jangan ada padamu ALLAH lain di hadapan ku , tapi lagi-lagi sekta terjadi demi politik(yang ingin menjadi Tuhan juga).
Sekian...!!