Kamis, 12 November 2015

NEGARA : MENJAMIN KEADILAN ?

NEGARA : MENJAMIN KEADILAN ?
Oleh: Masyudi Martani Padang (Boelang)

Ke-Adil-an merupakan suatu konsep yang bersifat Filosofis atau Etis. Inti dari keadilan adalah distribusi Hak dan Kewajiban yang di atur dalam konsep persamaan dan timbal Balik (Emha Ainun Nadjib). Menurut KBBI Keadilan adalah Sifat (Perbuatan, Perlakuan dan Sebagainya) yang adil. Kata Ke-Adil-an Berasal dari Kata Adil yaitu artinya sama berat, tidak memihak, tidak berat sebelah.
Dalam kehidupan Ber-Masyarakat dan Ber-Negara harus mematuhi terhadap tata kesepakatan yang telah terwujud menjadi aturan yang akan Mereorientasikan kehidupan yang penuh akan keadilan dalam Ber-Masyarakat serta Ber-Negara, sehingga bisa mendatangkan Perdamaian antar seksama dan menciptakan Kesejahterahan. Setiap manusia sebagai makhluk sosial pasti memiliki sebuah ideologi. Sebuah pemikiran yang melandasi tata hidup dan pola fikir, sehingga tercipta Ke-harmonisan dengan sesama. Semakin tertata dan teraturnya pola hidup seseorang, akan semakin baik pula sistem hidup orang tersebut.

Sebagai sebuah bangsa dan negara yang memiliki ideologi yang berasaskan Pancasila serta memiliki landasan yang kuat karena tersusun dari berbagai aspek dasar kehidupan. Pancasila yang memilki sila, Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah satu kunci yang berlandaskan hukum atau norma yang berlaku di masyarakat Indonesia.

Seperti Nilai yang terkandung dalam Sila Ke-V yaitu keadilan sosial. Keadilan Sosial ialah sifat masyarakat adil dan makmur berbahagia untuk semua orang, tidak ada penghinaan, tidak ada penghisapan, bahagia material dan bahagia spritual, lahir dan batin. Istilah adil menunjukkan bahwa orang harus memberi kepada orang lain apa yang menjadi haknya dan tahu mana haknya sendiri serta tahu apa kewajibannya kepada orang lain dan dirinya. Sosial berarti tidak mementingkan diri sendiri saja, tetapi mengutamakan kepentingan umum, tidak individualistik dan egoistik, tetapi berbuat untuk kepentingan bersama. Maka di dalam sila Ke-V tersebut terkandung nilai Keadilan didasari oleh hakekat keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan manusia dengan Tuhannya.

Banyaknya kasus-kasus yang beredar di Siaran TV, Media Sosial dan lain sebagainya, seperti kasus Tawuran, Pelarangan menjalankan suatu aritual keagamaan, pencurian sandal jepit oleh bocah 15 tahun, pencurian beras oleh seorang nenek, serta yang terbaru adalah Hate Speech yang disinyalir dapat Membunuh Hak kebebasan Bersuara dan Berpendapat menandakan bahwa Negara Belum Mampu menjamin Keadilan bagi seluruh rakyatnya. Telah menjadi rahasia umum pula bahwa hukum di Negara ini berpegang pada logika "Mereka yang memiliki uang yang menang serta mereka yang memiliki uang yang tenang" sehingga menyebabkan "Hukum Runcing Kebawah dan Tumpul Keatas".

Jadi, Benarkah Negara Menjamin Keadilan Ber-Masyarakat dan Ber-Negara bagi warganya ?

Wallahu A'lam Bissowab...

GENERASI MUDA : BUDAYA MENULIS


GENERASI MUDA : BUDAYA MENULIS
Oleh : Masyudi Martani Padang
“Dengan menulis aku ada,dengan menulis aku hidup, dengan menulis aku dibaca…”. (KH.Zainal Arifin Thoha)


Sudah banyak tulisan tentang mengenai budaya Menulis serta banyak pula pemikiran-pemikiran tentang melahirkan generasi yang "Gemar menulis". Hingga sampai kepada Kesimpulan bahwa menulis akan mempengaruhi Budaya serta memajukan Peradaban.Sebut saja beberapa penulis dalam negeri yang mempengaruhi budaya serta memajukan bangsa seperti : Pramodya ananta Toer, Hamka, Karitini, agus sunyoto, Emha Ainun Nadjib, Sudjiwo tejo dan masih banyak yang lainnya. Usaha-usaha perseorangan pun juga sering dilakukan seperti di Blog, Web, PanPage,serta di media Sosial yang lainnya yang telah dijadikan sebuah Buku Bacaan. Selain itu, usaha Me-literasi tulisan dalam buku keroyokan pun telah dilakukan.

Apalagi di jaman yang modern Perkembangan Teknologi dan informasi sangat cepat perkembangannya, akses untuk mencari sumber-Sumber bacaan bisa didapatkan di berbagai media-media (Khususnya Media Sosial dllnya), dan jangan lupa juga sering-Sering membuka Panpage "Suladwiva". buku-buku saat ini bisa juga di Download di E-Book walaupun agak terbatas namun bisa menjadikan sumber bacaan bagi penulis, selain menggunakan Beberapa pendekatan dan Analisis untuk Menulis.

Bagi kebanyakan orang menulis adalah sesuatu hal yang indah karena bisa Ber-Ekspresi dalam tulisannya serta bisa membuat Semacam karya Tulis, memang menulis memiliki Nilai Kesenian yang tinggi, dan sebagian orang lagi mengatakan agak susah menulis karena ia tidak tauh memulai dari mana dan pembahasannya apa (Judul Tulisan). Jawaban dari ciri orang yang kedua adalah mulailah menulis dengan hal-hal kecil seperti masalah-masalah pribadi ataupun kejadian-kejadian yang terjadi didalam kehidupan pribadi. Karena perlu di sadari bahwa budaya menulis kita semakin kurang, apalagi membandingkan dengan Negara-negara Se-level asia.

Saat seorang menulis maka di saat itu pula dia mampu memvisualisasikan ide-ide cemerlang yang tersimpan dalam dirinya. Namun ketika aktivitas ini tidak menjadi bagian hidupnya yang terjadi adalah terbuangnya ide-ide cemerlang yang dimiliki. Padahal ide itu sangat mahal harganya. Kita tidak tahu kapan ide muncul dan terkadang dengan mudah terlupakan. Cara yang paling dahsyat untuk mengingat dan mengarsipkannya adalah dengan menuliskannya. Sedikit yang dituliskan bukanlah menjadi masalah. Yang terpenting adalah ide dan proses membudayakan Budaya Menulis itu bisa terwujudkan dalam suatu karya yang bermutu tinggi.

Khususnya para generasi Muda yang masih bergelut di dunia Pendidikan. Masa muda adalah waktu yang tepat untuk menggali potensi yang dimiliki. Kalau bersedia meluangkan waktunya untuk menggali potensinya maka yakinlah bahwa ia mampu menjadi penulis yang baik. Apalagi ketika generasi Muda sebagai insan yang akademis kegiatan menulis harusnya dilakukan secara rutin dan terus berlatih sehingga saraf menulisnya dapat lentur. Harusnya hal ini dibareni dengan membaca, sebab membaca adalah kunci untuk menulis. Membaca bukan hanya sekedar mendapat asupan informasi saja, tapi juga untuk memperoleh ketajaman analisis dan berpikir terhadap suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Dan juga dapat mengembangkan kosa kata dalam gaya penulisan demi berkualitasnya tulisan yang dihasilkan. Penulis yang baik akan terus berkarya tidak sekadar mengejar popularitas tetapi demi kemajuan bangsanya. Dengan demikian maka akan sangat mudah bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang berperadaban.

Maka dari itu budayakanlah dan tanamkan budaya menulis didalam jiwa, dimulai dari yang sederhana. Dan akan berlanjut ke tulisan yang lebih panjang dan bermutu, sehingga dapat menurunkan warisan yang berharga berupa gagasan yang brilian dan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak serta dapat mendokumentasikan sejarahnya sendiri.

Senin, 12 Oktober 2015

PENDIDIKAN DIBANGSAKU

kemajuan suatu bangsa ditandai dengan kualitas sumber daya manusianya (SDM), bangsa yang telah melaju pesat disegala bidang adalah bangsa yang menfokuskan diri dibidang sektor Pendidikannya, itu bisa kita liat dari bangsa atau negara-negara maju dibelahan dunia ini. sedangkan dibangsaku tidak dapat kulihat seperti di Negara-negara lain pada umumnya.

Ternyata dibangsaku indeks Kualitas Sumber Daya Manusianya belum mencapai standarnya, Pendidikan hanya di gunakan sebagai alat untuk merubah Nasib hidup bukan untuk memanusiakan Manusia serta mengeluarkan manusia dari Kebodohan dllnya, pendidikan dibangsaku yang dinamai Sekolah serta  Perguruan Tinggi Negeri ternyata mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas di bangsaku, masyarakat pada umumnya menganggap bahwa Sekolah/Perguruan Tinggi adalah wadah untuk mencari ilmu, namun apa bila kita mengkaji lebih dalam ternyata tujuannya cuman ingin mendapatkan Ijasah kelulusan untuk mendapatkan suatu pekerjaan, sehingga pekerjaan ini dapat merubah nasib dari Standar Ke level atas, jadi dapat kita simpulkan bahwa Sekolah/Perguruan Tinggi Negeri hanya menjadi "Pabrik" dan Murid/Mahasiswa menjadi "Buruh"

Pendidikan yang di atur dalam UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa Tujuan Pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, tidak mendapatkan tempatnya di Sekolah/Perguruan Tinggi Negeri, Sarana pendidikan yang saat ini dapat kita jumpai sebagai Sarana Proyek Komersialisasi dan upaya Industrinisasi, efeknya Guru/dosen hanya mengajar sebagai Formalitas saja dengan pemuatan-pemuatan materi pembelajaran yang ada, Sedangkan Murid/Mahasiswa hanya study oriented, menjadi Individualistik tanpa mau mengurusi permasalahan Umat.

Menoleh dari beberapa Kejadian yang disebabkan Rusaknya sistem pendidikan kita adalah Tawuran antar Pelajar, Korupsi dimana-mana, mengerasnya Budaya Konsumtif yang serba instan dan praktis, terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga, terjadinya Pemukulan oleh seorang Guru kepada muridnya dll. yaa seperti itulah contoh-contoh yang terjadi akibat Sistem Pendidikan Dibangsaku. Kata orang banyak, Orang yang berpendidikan adalah orang yang Bersekolah, Sedangkan orang yang tidak bersekolah adalah orang yang tidak berpendidikan. namun ternyata malah orang-orang yang menemukan sesuatu seperti bola lampu dllnya adalah orang-orang yang tidak pernah merasakan dunia Pendidikan (Sekolah/Perguruan Tinggi Negeri) jadi apakah Mungkin dikatakan Sekolah dan Perguruan Tingi sebagai Wadah Mencari Ilmu ?

Salah satu merosotnya Sektor Ekonomi dibangsaku merupakan Pengaruh dari Dunia pendidikan di bangsaku, Manusi-Manusia yang Bersekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Keperguruan Tinggi Negeri di Doktrinisasi menjadi Manusia yang Konsumtif, sehingga membuat manusia-manusia dibangsaku merasa agak Gengsi memakai Produk-produk dalam negeri kebanding Produk-produk Luar negeri, yang membuat Menguatnya Impor dan melemahnya Ekspor di bangsaku.

Dibidang Sosial, dunia pendidikan yang carut-marut ini bisa kita liat juga pengaruhnya dibidang sosial seperti contohnya terjadinya pemisahan derajat seseorang antara Si kaya dan Si miskin ditengah-tengah masyarakat, manusia yang dikatakan sebagai golongan Kaya akan membanggakan dirinya sebagai manusa yang diprioritaskan dalam dunia pendidikan, sedangkan si miskin hanya numpang sehingga terjadinya Dehumanisasi di dunia pendidikan.

Mengutip Kata dari Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Anis Baswedan), Seorang pelajar jangan dilihat hanya sebagai Pelajar, namun mereka harus dilihat sebagai generasi Bangsa yang akan melanjutkan Pembangunan bangsa kedepannya, Seperti salah satu Bapak Pendidikan Modern yang dimiliki Bangsa ini yaitu Ki Hajar Dewantara yang telah mendirikan Taman Siswa pada Tahun 1992 yang sesuai dengan Metode pembelajarannya yaitu "Ing Ngarsa Sung Tulada", "Ing Madya Mangun Karsa" Serta "Tut Wuri Handayani" menawarkan Konsep pendidikan yang berfokus kepada Pendidikan yang berkarakter, Konsep itu kita kenal adalah Konsep Pancawardhana yaitu (Daya Cipta, Karsa, Karya, Rasa dan Moral).

Selain Konsep Taman Siswa yang didirikan Oleh Ki Hajar Dewantara, terdapat pula Lembaga Pendidikan yang mewarisi sistem-sistem pendidikan masyarakat kuno nusantara yaitu Pesantren. pesantren yang tidak pernah dijajah oleh Bangsa Penjajah pada saat itu bahkan pesantren melakukan Peralawan Terhadap bangsa penjajah setelah runtuhnya Kerajaan-kerajaan Nusntara tidak mendapatkan Perhatian Khusus Oleh pemerintah. Pesantren dianggap bukan Suatu Wadah Persekolahan, namun Kenyataanya Malah lulusan Pesantrenlah yang banyak Membangun Bangsa ini serta Setia Mempertahankan Budaya yang dimiliki Bangsa ini sebagai Warisan Masyarakat Nusantara Kuno yang perlu di Lestarikan Terus Menerus. seperti contoh alumni-alumni Pesantren yang telah melahirkan Beberapa Tokoh Nasional adalah KH.Hasyim Asy'ari, KH.Wahab Chasbullah, serta KH.Wahid Hasyim yang menjadi Salah Satu Perumus ideologi bangsa (PANCASILA).

Disadari atau tidak, bahwa memang Pendidikan Kita Berjalan Ditempat, atau tidak berubah sama sekalipun dengan sistem pendidikan di jaman Kolonial, Kurikulum yang sering berubah-ubah sesuai dengan Keinginan suatu kelompok menyebabkan dunia Pendidikan Menjadi Gamang dan tidak jelas arahnya. Di saat Seperti ini Pemerintah Seharusnya Memfokuskan serta Merekonstruksi dunia pendidikan, Sehingga Pendidikan di Bangsa ini Sesuai dengan Amanat UUD 1945 yaitu "Mencerdaskan Segala Bangsa" serta cita-cita Leluhur yang menghasilkan Manusia-manusia Berakhlak mulia, Berketerampilan, Berwawasan  Yang luas, berkarakter serta dapat menciptakan Indusitri-industri yang dapat membangun bangsa ini kearah yang lebih maju dan Baik.

Rabu, 07 Oktober 2015

BERFISIP : ANTARA CINTA DAN KEKUASAAN

banyak orang yang mengatakan bahwa mereka sangat mencintai, para pencinta mengakatakan bahwa mereka mencintai kekasihnya, Mahasiswa fisip mengatakan Saya Mencintai Fakultas Saya Beserta Lembaganya, sang guru/Dosen mengatakan mencintai Murid/Mahasiswanya, dan Negara pula mengatakan mencintai rakyatnya. namun tragisnya, para mereka yang mengatakan bahwa mereka mencintai tidak terlalu paham tentang arti cinta dan mencintai itu sendiri, cinta memanglah agak sulit di artikan karena cinta merupakan olahan Perasaan Subjekvitas dari Seseorang, berbagai ahli-ahli telah mengeluarkan Teori Cinta itu sendiri yang membuat kita semakin bingung, maka tidak heran jika kemudian seseorang menafsirkan sendiri tentang cinta dan mencintai, sehingga ia tidak terkungkung dalam definisi cinta dan mencintai yang dibuat oleh para Ahli.

Cinta yang bisa digambarkan oleh Penulis yaitu adalah pancaran Persahabatan, perdamaian, keakraban, Keindahan dan peduli kepada sesama. dari pengertian yang sederhana itu, cinta bisa kita artikan sebagai kerangka peradaban yang manusiawi, yang menjadi pertanyaan besarnya adalah Apakah Cinta yang agung dan tulus telah menjelma dalam Kehidupan sehari-hari, khususnya mencintai Lembaga ? Jawabannya Belum. karena cinta Lembaga masih disusupi dengan naluri kepemilikan dan Penguasaan Pribadi dan itu sudah di anggap wajar-wajar saja dan dapat diterima dengan begitu saja.

Contonya dapat kita lihat dari Beberapa kejadian yang telah terjadi ditubuh Fisip unanda, para bapak-bapak dan ibu-ibu banyak membatasi gerak kreavitas anaknya dengan berbagai alasan, mereka lebih memilih menyeragamkan pemikiran serta kreativitas anak-anaknya yang sudah tentu dapat kita lihat bahwa setiap anak memilihki pemikiran lain dalam membangun Lembaganya (yang tidak ikut sama orang tua akan dikesampingkan dan tidak diperhitungkan dalam Keluarga), contoh lainya juga dapat kita liat dari sang kakak yang melakukan hal sama seperti orang tuanya kepada Adik-adiknya bahkan untuk memuaskan hasrat cintanya kepada adiknya ia tega melakukan perbuatan yang kurang manusiawi. ketakutan dari orang tua beserta kakak-kakak adalah kehilangan Power dihadapan sang adik-adik, karna sang adik-adik memiliki keberanian dalam mengkritik mereka.

Kejadian seperti diatas bisa kita katakan sebagai kurang pahamnya kita dalam mengenal kata cinta dan mencintai, ternyata selama ini kita mencintai bukan karena cinta lembaga dan Adik-adik namun lebih kearah mencintai diri sendiri. cinta yang selama ini kita lakukan dalam lembaga sering dibalut dengan Hasrat Kekuasaan dan pengaturan (syarat) yang menciderai prisip cinta itu sendiri yaitu Penuh kasih sayang dan kedamaian. cinta bukan lagi sebuah pengorbanan namun menjadi Tuntutan, kalau tuntutan tersebut tidak dijalankan maka yang terjadi adalah sebuah kekerasan.

Jadi kalau cinta diartikan sebagai pancaran Persahabatan, keindahan yang penuh kasih sayang dan damai maka yang harus terjadi dalam proses kelembagaan adalah kondisi dan suasana kondusif, tentram dalam tubuh Fisip itu sendiri sehingga hubungan Silaturahim antar Bapak-ibu-kakak-dan adik bisa berjalan dengan baik .